Malam yang selalu menjadi Kenangan

   


    Cerita dimana baru bisa aku ceritakan dalam bentuk tulisan ketika aku sudah mendapatkan ending dari ceritaku selama ini yang selalu membuatku berpikir tanpa ujung, yang selalu mengharap sesuatu yang akan kembali lagi padaku dan sampai dimana semua yang menjadi harapanku bertolak belakang, ternyata aku hanya larut dalam harapan yang tak pernah akan aku dapatkan.

   Cerita ini berawal dari kita yang tanpa sengaja kenal dan berakhir tanpa penjelasan hanya sebuah foto yang membuat alasan untuk diri ini tidak lagi berharap kamu datang menjelaskan semuanya. Hampir setengah tahun aku mengenalmu lewat aplikasi datting, yang berawal dimana kamu aku anggap hanya teman onlineku, hanya sebatas teman komunikasi yang gak lebih dan tidak ada maksud untuk mengenalmu lebih dari teman onlineku. Kita berkomunikasi yang sewajarnya, menanyakan bagaimana kegiatan hari ini, asal dari mana, seputaran pendidikan dan pekerjaan saat ini. Meskipun kita terbilang sudah lama bertukaran nomor handphone tapi kita jarang berkomunikasi secara intens bahkan bisa dibilang dalam satu bulan bisa hanya satu sampai tiga kali bertegur sapa via whatshapp. 

    Sampai dipenghujung tahun diakhir bulan Oktober kita benar-benar dipertemukan oleh semesta entah itu secara kebetulan atau semesta punya cerita sendiri tentang kita. 

Suasana kelas yang hening semua mata tertuju kedepan layar tanpa jeda setiap detik pada waktu itu tidak terlewatkan begitu saja, sampai seketika fokusku terpecah dengan notifikasi yang masuk di hanphone ku.

     “(satu pesan baru Imam mengerim foto)” pesan yang sangat jarang aku dapatkan, yang biasa dia lakukan ketika mengirimkan aku pesan hanya menunjukkan dia sedang berada ditempat yang dekat denganku, benar saja dia mengrim foto sedang melewati daerah dekat dengan rumahku. 

 “Kuy buk guru healing” (isi pesan darinya yang tidak hanya mengirim gambar namun dengan kata seolah ingin menagajak pergi.

 “Mau kemana ka”

 “Mau ke Balam bu guru” (panggilan khasnya kepadaku dari awal kita kenal)

 “ Giliran aku gak dirumah aja ngajak jalan, Ada acara apa ka?”

 “Latihan futsal buk guru, emang buk guru lagi dimana?”

 “Kuliah ka, Sama siapa?”

 “Sendiri dari rumah, tapi disini ramai bu” (kembali dia mengirimkan pesan dan foto menunjukkan lokasi saat ini dia berada.

 “owh yaudah ati-ati ka” 

 “ Buk guru sampai kapan kuliahnya?”

 “Dua hari ka sampai besok weekend”

 “Berarti malam ini minep dikosan ya buk? Kuy ketemu buk,(dengan emotikon tertawa).

 “Hilih dari dulu katanya mau ketemu tapi gak jadi-jadi huhuhu”

 “Emang sampai jam berapa buk kuliahnya”

 “Sampai sore ka, sekitaran jam 4”

 “Oh sore juga ya buk”

 “Iya ka jadi kapan-kapan aja ketemunya heheh”

 “Sekarang aja low buk mumpung masih disini dan deket, kabarin aja kalau sudah selesai kuliahnya entar aku jembut kekosan, coba geh shearlock”.

 (akupun mengirim pesan untuknya berupa titik lokasi aku saat ini)

    Setelah melewati percakapan yang panjang kitapun memutuskan untuk ketemu disuatu tempat karena aku menolaknya untuk menjemputku pada saat itu. Tepat di jam lima sore lebih kita bertemu di salah satu Mall yang ada di dekat kampusku dan dekat dengan tempat dia bermain futsal, pertemuan itu adalah pertemuan dimana pertama kali kita bertemu dan sangat menakjubkannya bagiku dia begitu tampan, tinggi dan tampilannya yang tipe aku banget. Kita bergegas memasuki Mall yang memang niat awalnya kita ingin menonton Bioskop, namun karena film pada saat itu kurang menarik akhirnya kita memutuskan untuk pindah lokasi yaitu ke pantai disalah satu pantai yang buka dimalam hari. Ketika diperjalanan kita banyak bercakap dan bercanda sampai pada tempat yang kita tuju dimana suasananya sangat romatis dipenuhi dengan pemandangan lampu-lampu yang bergantungan sampai dimana kita memutuskan untuk menentukan tempat duduk yang strategis yang paling bagus dan paling romantis, kita duduk dan langsung disambut oleh pelayan yang ada ditempat


 “Selamat malam ka, mau pesen apa ini daftar menunya saya tinggal ya ka nanti kalau sudah saya balik lagi kesini” (sambut sapa pelayan)

 “Mau pesen apa buk, minumnya mau apa? Cemilannya mau apa? (Dia begitu ramah menawarkan kepadaku) 

 “kaka pesen apa minumnya” (aku balik menawarkannya)

 “Aku Moccacino ice aja buk, cemilannya terserah ibu” (sambil memberikan daftar menu)

 “Aku Moccacino hot aja deh”

 “Emang suka Kopi, kayak suka kopi aja buk” (dengan nada menggoda)

 “Ikut kaka aja pengen coba juga” (mementapkan pilihan menu)


    Dari semenjak malam itu sampai saat ini aku menetapkan Moccacino jadi minuman kesukaanku, yang tadinya Macha jadi minuman kesukaan aku tapi sekarang sudah ku pastikan bukan macha pemenangnya, sedikit lucu kedengarannya yang tadinya aku benar-benar tidak menyukai kopi tapi karena momen malam itu aku jadi penggemar Moccacino alasannya sudah pasti karena momen dimana aku merasa bertemu dia pertama kali namun berasa sudah sering bertemu dengannya, bahkan untuk cerita deeptalk sudah tidak sungkan lagi dan feedback yang aku rasakan pada saat itu darinya benar-benar nyata, seolah aku tak ingin waktu dimalam itu cepat berlalu. Aku benar-benar merasa nyaman berada didekat dia bahkan aku merasa begitu dekat mengenalnya aku merasa seseorang yang aku cari saat ini ada di dirinya.

    Tidak terasa suasana malam ditepi laut mulai terasa dingin dan ombak laut mulai terasa pasang kami berada tepat dipinggir bibir pantai sengat terasa ombaknya makin malam makin naik ketepi pantai. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat bukan untuk pulang tapi keluar mencari tempat lain untuk berlanjut mengobrol dan tukar pengalaman. Selama diperjalanan kita banyak bercerita satu sama lain baik di masalah pekerjaan, pendidikan, dan keluarga dan kita hanya memutar kota sampai tengah malam.

    Semenjak malam itu kita makin sering komunikasi meskipun cara komunikasinya yang dingin dan sedikit cuek namun aku merasa dia sudah sedikit melihat ketertarikan pada diriku, semenjak itu aku memutuskan untuk fokus mengenal lebih jauh kehidupannya, kami sering mengirimkan kesibukan setiap harinya, setiap malam dan sampai saat ini masih aku ingat tengah malam adalah waktu dimana dia belum tidur dan menyelesaikan semua tanggung jawabnya baik pekerjaannya maupun tugas kuliah, dan ditengah malam itu juga dia selalu ingat bahwa aku selalu terbangun untuk melaksakan Qiyamul-lail dan diwaktu itulah kita sering bercerita sampai dinihari. Dan semenjak awal pertama kita bertemu rutinitas kita diakhir pekan selalu menyempatkan bertemu bahkan tengah malam dia benar-benar menyempatkan untuk bertemu walaupun hanya untuk memutar kota dan mengobrol diatas mobil.

    Semenjak itu aku merasa benar-benar makin hari makin merasa pria yang selama ini yang aku cari ada pada dirinya, bahkan untuk peratama kalinya aku dibuat yakin sebegitu cepatnya dengan pria yang baru aku kenal aku memberanikan diri untuk memperbolehkan dia menjemputku didepan rumah bahkan lucunya lagi aku menceritakan dia kepada ibuku padahal disitu kita belum ada ikatan apa-apa, aku bahkan tidak ada sama sekali terbesit berfikir buruk kepadanya karena aku benar-benar merasakan kebaikannya nyata, caranya yang benar-benar belum pernah aku merasakan sebelumnya.

    Malam itu ya malam dimana aku sangat-sangat merasa bahagia sebahagia itu setelah bertemunya namun malam itu juga menjadi malam akhir dari segalanya, yang bahkan sampai detik ini aku tidak pernah berfikir endingnya kita akan menjadi orang asing seperti awal sebelum pertemuan pertama itu. Sampai saat ini aku masih mempunyai seribu pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepadanya namun itu tidak mungkin bisa untuk aku sampaikan, sekarang hanya pembelajaran yang dapat aku ambil dari pertemuanku dengannya. Orang yang bahkan kita anggap dia tidak akan pernah melukai kita nyatanya itu tidak bisa menjanjikan sepenuhnya, bahkan karena dia aku bisa meneteskan air mata didepan sahabatku, bisa menceritakan bagaimana manisnya pertama kali pertemuan kita, bahkan disetiap sudut kota yang pernah kita lewati dan kita datangi sampai saat ini belum mampu untuk aku merasakan baik-baik saja ketika melintasinya. Malam adalah waktu dimana menjadi waktu yang paling aku suka tapi sekarang malam menjadi waktu dimana aku selalu ingat dia.

    Aku mencoba untuk mengikhlaskan semuanya apa yang telah terjadi saat ini karena aku percaya sesuatu yang bukan ditakdirkan untukku sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi milikku, andaikan saja ikhlas semudah seperti aku menuliskan kata ikhlas mungkin tidak ada air mata yang jatuh sampai saat ini. Andai waktu dan kesempatan itu hadir lagi akan kupastikan aku mengenalmu tanpa pakai rasa yang seharusnya tidak aku cipatakan saat itu juga. Mungkin alam semesta tak menginginkan kita untuk kembali bertemu, mungkin cerita kita hanya sebuah kesalahanku yang terlalu cepat menaruh harapan kepadamu. Namun ini perihal hati kita tidak bisa tau dengan siapa kita jatuh hati, kapan kita jatuh hati dan bahkan menentukan tempatnya, rasa itu mengalir mengikuti perjalanan pertemuan dan mengalir melalui kebiasaan kita berkomunikasi.

    Perasaan yang tadinya ditanya apakah dia masih ingin aku beri kesempatan ketika dia kembali lagi dengan lantang aku mengatakan IYA, saat itu masih berpikir baik kepadanya karena pada saat malam terakhir kita bertemu disitu sangat jelas dia benar-benar tertarik kepadaku dan ingin mencoba memiliki hubungan lebih dari teman dan alasan itu juga yang membuatku yakin untuk memberikannya kesempatan kembali lagi ketika dia datang, namun saat ini aku sudah yakin dengan ucapan penolakanku untuk tidak menerimanya lagi, kembali dalam hidupku, semenjak aku melihat postingannya di sosial media yang menggenggam tangan wanita lain disitulah aku makin yakin untuk mengikhlaskannya sudah tidak ada alasan lagi untuk aku selalu menunggunya silent treatment yang selama ini dia lakukan kepadaku dan jawabnnya adalah bukan aku yang dia inginkan, bukan aku yang menjadi salah satu tujuan dalam hidupnya.

     Dear IDS ....... kamu baik kamu orang baik aku gak pernah nyesel pernah dipertemukan semesta sama kamu, aku kenal kamu yang baik bahkan belum pernah aku temui di diri orang lain maafkan aku iya salah mengartikan maksud kamu selama kita dekat, aku yang terlalu berharap lebih dengan kamu, kamu adalah pembelajaran berharga diakhir 2022 dalam romansaku, kamu adalah orang pertama yang membuat aku terlalu cepat mencintai tanpa ada komunikasi dengan logika dan kamu juga orang yang sebegitu cepat memutuskan aku untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi bahkan untuk sekarang tertarik dengan lawan jenis itu sangat sulit aku lakukan sulit untuk diriku membedakan pria yang datang dengan maksud apa yang aku tau mereka datang hanya sedekar penasaran dan aku kembali menjadi wanita yang cuek, dingin, ramah kepada semua orang tapi hatinya seperti beku dekat namun tidak bisa melibatkan perasaan. Benar iya kata orang kita bisa memiliki rasa trauma yang begitu besar hanya karena seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab, andai caramu datang tidak sebegitu meyakinkan aku tidak akan seruntuh saat ini, andai caramu berpamitan itu dengan baik-baik saja aku tidak akan memiliki rasa trauma sebesar seperti saat ini. Tugasku saat ini mengobatinya mengobati rasa traumaku kepada romansa entah butuh waktu berapa lama namun aku berharap bisa cepatku sembuhkan tanpa melibatkan siapapun.

Melupakan itu sulit 

tapi lebih sulit lagi tidak bisa kembali percaya dengan orang lain, 

hanya karena satu orang 

kita bisa menaruh penilaian yang sama kesemua orang

Hubungan yang berakhir itu memang membuat sakit

Namun lebih sakit lagi 

Belum ada hubungan namun sudah mengkaitkan perasaan

Ketika aku yang menciptakan kebahagian yang 

Maybe I stopped to text you

But the truth is I’m still thinking about you

And missing You

TAPI BOONG!!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masih dengan Rasa yang Sama

Rasa Takut Untuk Melepaskan